MASALAH
LAHAN PERTANIAN
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Mata
pencaharian adalah pekerjaan atau pencaharian utama (yang dikerjakan untuk
biaya sehari-hari). Indonesia adalah negara agraris jadi sebagian besar
masyarakat Indonesia bermata pencaharian sebagai petani. Petani sendiri adalah
konsep pendapatan nasional menurut lapangan usaha atau sektor produksi ialah
pertanian yang meliputi berbagai subsektor. Meskipun demikian dengan seiring
perkembangan zaman masalah pertanian di Indonesia semakin bertambah, antara lain:
Dengan berkembangnya teknologi, sistem pertanian juga mengalami perubahan dalam
pengelolaan lahan, seperti : munculnya alat pembajak modern yang menyebabkan
hilangnya mata pencaharian penduduk terutama penduduk yang bermata pencaharian
mencangkul, selain itu munculnya mesin perontok padi, yang juga menyebabkan
hilangnya mata pencaharian sebagian penduduk. Masalah pertanian lainnya yaitu
penggunaan lahan pertanian sebagai lahan industri, Fenomena ini menyebabkan luas lahan
pertanian produktif relatif semakin sempit karena terjadinya alih fungsi lahan
dari lahan pertanian untuk kebutuhan pemukiman industry infrakstruktur jalan
dll. Juga masalah pertambahan jumlah penduduk, Fenomena ini menyebabkan krisis
terhadap tersedianya lahan pertanian karena terjadinya alih fungsi lahan yang
kecenderungan semakin meningkat dari waktu ke waktu dan menimbulkan persoalan
pengangguran tersembunyi atau pengangguran tak kentara suatu keadaan yang
ditimbulkan karena petani semakin kehilangan lahan pertanian serta dalam jangka
panjang krisis sektor pertanian akan menyebabkan terjadinya kemiskinan
dipedesaan. Adapun cara mengatasi masalah petanian yaitu dengan pengembangan
usaha tani-usaha tani berskala besar dan melibatkan satuan-satuan yang berskala
kecil, pembentukan usaha tani kolektif berskala besar yang diprakarsai oleh
negara, pembinaan usaha tani-usaha tani kecil padat modal yang digalang dalam
suatu koperasi nasional dibawah pengelolaan negara. Meskipun demikian terdapat
beberapa kendala dalam mengatasi masalah kemiskinan yaitu lemahnya struktur
permodalan dan akses terhadap sumber permodalan, ketersediaan lahan dan masalah
kesuburan tanah, terbatasnya kemampuan dalam penguasaan teknologi.
B. Rumusan Masalah
1.
Apakah
yang dimaksud dengan mata pencaharian?
2.
Apakah
yang dimaksud dengan sektor pertanian?
3.
Apa
sajakah masalah dalam sektor pertanian?
4.
Bagaimana
cara mengatasi masalah dalam sektor pertanian?
5.
Mengapa
masalah pertanian sulit diatasi?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui
pengertian mata pencaharian dan menganalisis mata pencaharian pokok masyarakat
Indonesia.
2.
Mempelajari
pertanian dan macam subsektor pertanian.
3.
Mampu
menganalisis permasalahan dalam sektor pertanian dan mampu mencari solusinya.
4.
Mampu
menilai, menimbang seberapa besar pengaruh kebijakan dan strategi padasektor
pertanian.
II.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Mata Pencaharian
Mata pencaharian adalah pekerjaan atau
pencaharian utama (yang dikerjakan untuk biaya sehari-hari). Mata pencaharian
meliputi berbagai macam sektor, sebagai negara agraris Indonesia bermata
pencaharian pokok di sektor pertanian.
B.
Pengertian
dan Lingkup Sektor Pertanian
Sektor pertanian
yang dimaksudkan dalam konsep pendapatan nasional menurut lapangan usaha atau
sektor produksi ialah pertanian dalam arti luas yang meliputi lima subsektor
yaitu :
1.
Subsektor
Tanaman Pangan Subsektor tanaman pangan sering disebut sub sektor pertanian
rakyat karena tanaman pangan biasanya diusahakan oleh rakyat.
2. Subsektor Perkebunan Subsektor
perkebunan dibedakkan atas perkebunan rakyat dan perkebunan besar. Yang
dimaksud dengan perkebunan rakyat ialah Perkebunan yang diusahakan sendiri oleh
rakyat atau masyarakat biasanya dalam skala kecil-kecilan dan dengan teknologi
yang sederhana. Perkebunan besar ialah semua kegiatan perkebunan yang
dijalankan oleh perusahaan-perusahaan perkebunan berbadan hukum.
3. Subsektor Kehutanan Subsektor
kehutanan terdiri atas 3 macam kegiatan yaitu : Penebangan kayu, Pengambilan
hasil hutan lain, dan perburuan.
4. Subsektor Peternakan Subsektor
peternakan mencakup kegiatan beternak itu sendiri dan pengusahaan
hasil-hasilnya yang meliputi produksi ternak-ternak besar dan kecil dan hasil
pemotongan hewan.
5. Subsektor Perikanan Subsektor
perikanan meliputi semua hasil kegiatan perikanan laut, perairan umum, dan
pengolahan sederhana atas produk-produk perikanan (pengeringan dan pengasinan)
C.
Masalah
Pertanian
Mata
Pencaharian merupakan salah satu unsur yang mencerminkan kualitas penduduk di
suatu negara. Indonesia kaya akan Sumber Daya Alam namun tidak bisa mengimbangi
dengan Sumber Daya Manusia, dan salah satunya kurang tepatnya pemanfaatan
lahan. Antara lain:
1.
Penggunakan
alat teknologi.
Seiring perkembangan zaman, teknologi semakin maju,
sehingga dalam pertanian banyak menggunakan mesin modern. Seperti, mesin bajak,
mesin perontok padi. Fenomena ini menyebabkan mata pencaharian penduduk semakin
berkurang karena seseorang yang bekerja mencangkul sudah tidak dipekerjakan
lagi. Selain itu juga penggunaa mesin perontok padi yang juga mengurangi mata
pencaharian sebagian penduduk.
2.
Penggunaan
lahan pertanian sebagai lahan industri.
Fenomena ini menyebabkan luas lahan pertanian produktif
relatif semakin sempit karena terjadinya alih fungsi lahan dari lahan pertanian
untuk kebutuhan pemukiman industry infrakstruktur jalan dll.
3.
Ledakan
jumlah penduduk
Fenomena ini menyebabkan krisis terhadap tersedianya
lahan pertanian karena terjadinya alih fungsi lahan yang kecendrungan semakin
meningkat dari waktu ke waktu dan menimbulkan persoalan pengangguran
tersembunyi atau pengangguran tak kentara suatu keadaan yang ditimbulkan karena
petani semakin kehilangan lahan pertanian serta dalam jangka panjang krisis
sektor pertanian akan menyebabkan terjadinya kemiskinan dipedesaan.
D. Cara mengatasi masalah di Sektor
Pertanian
Dalam
Perekonomian Sektor pertanian hingga kini masih menjadi sumber mata pencaharian
utama sebagian besar penduduk Indonesia, pola perkembangan sektor pertanian
Indonesia ditempuh melalui 3 kemungkinan pola atau jalur :
1. Jalur kapitalistik, yakni melalui
pengembangan usaha tani- usaha tani berskala besar dan melibatkan satuan-satuan
yang berskala kecil.
2. Jalur sosialistik, yakni melalui
pembentukan usaha tani kolektif berskala besar yang diprakarsai oleh negara.
3. Jalur koperasi semi kapitalistik
yakni melalui pembinaan usaha tani- usaha tani kecil padat modal yang digalang
dalam suatu koperasi nasional dibawah pengelolaan negara.
E.
Kendala
dalam pengembangan sektor pertanian.
Peningkatan
produksi pertanian lebih banyak karena upaya intensifikasi pertanian melalui
panen 2 atau 3 kali setahun dan ekstentifikasi pertanian dengan memperluas
lahan pertanian sementara relatif masih sedikit yang berkaitan dengan upaya
aplikasi teknologi. Hal ini cukup merisaukan karena tekanan kebutuhan lahan
yang cukup tinggi menyebabkan lahan pertanian semakin termarginalkan dan bergeser
ke daerah yang tingkat produktifitasnya lebih rendah. Implikasi yang
ditimbulkan dari fenomena ini adalah terjadinya penurunan dan perlambatan
produksi pertanian khususnya produksi padi. Adapun kendala yang dihadapi dalam
pengembangan pertanian khususnya petani skala kecil ,antara lain:
1.
Lemahnya
struktur permodalan dan akses terhadap sumber permodalan. Salah satu faktor
produksi penting dalam usaha tani adalah modal. Besar-kecilnya skala usaha tani
yang dilakukan tergantung dari pemilikan modal. Secara umum pemilikan modal
petani masih relatif kecil, karena modal ini biasanya bersumber dari penyisihan
pendapatan usaha tani sebelumnya. Untuk memodali usaha tani selanjutnya petani
terpaksa memilih alternatif lain, yaitu meminjam uang pada orang lain yang
lebih mampu (pedagang) atau segala kebutuhan usaha tanidiambil dulu dari toko
dengan perjanjian pembayarannya setelah panen. Kondisi seperti inilah yang
menyebabkan petani sering terjerat pada sistem pinjaman yang secara ekonomi
merugikan pihak petani.
2.
Ketersediaan
lahan dan masalah kesuburan tanah. Kesuburan tanah sebagai faktor produksi
utama dalam pertanian. Permasalahannya bukan saja menyangkut makin terbatasnya
lahan yang dapat dimanfaatkan petani, tetapi juga berkaitan dengan perubahan
perilaku petani dalam berusaha tani.
3.
Pengadaan
dan penyaluran sarana produksi. Sarana produksi sangat diperlukan dalam proses
produksi untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Pengadaan sarana produksi itu
bukan hanya menyangkut ketersediaannya dalam jumlah yang cukup, tetapi yang
lebih penting adalah jenis dan kualitasnya.
4.
Terbatasnya
kemampuan dalam penguasaan teknologi. Usaha pertanian merupakan suatu proses
yang memerlukan jangka waktu tertentu. Dalam proses tersebut akan terakumulasi
berbagai faktor produksi dan saranaproduksi yang merupakan faktor masukan
produksi yang diperlukan dalam proses tersebut untuk mendapatkan keluaran yang
diinginkan.
5.
Lemahnya
organisasi dan manajemen usaha tani.Organisasi merupakan wadah yang sangat
penting dalam masyarakat, terutamakaitannya dengan penyampaian informasi (top
down) dan panyaluran inspirasi(bottom up) para anggotanya.
6.
Kurangnya
kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia untuk sektor agribisnis. Petani
merupakan sumberdaya manusia yang memegang peranan penting dalam menentukan
keberhasilan suatu kegiatan usaha tani, karena petani merupakan pekerja dan
sekaligus manajer dalam usaha tani itu sendiri.
III.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pertanian
merupakan mata pencaharian pokok diIndonesia, sehingga perlu adanya cara agar
sektor pertanian tidak mengalami kemunduran. Untuk mewujudkan sektor pertanian
yang maju, modern, berdaya saing, dan mampu memberikan kesejahteraan bagi para
pelakunya diperlukan upaya-upaya yang terstruktur dan terukur. Beberapa upaya
yang telah dilakukan untuk peningkatan produksi pangan antara lain:
1. Penyusunan Roadmap Peningkatan Produksi Beras
Nasional (P2BN) menuju surplusberas 10 juta ton pada tahun 2014.
2. Audit lahan sawah di pulau Jawa.
3. Peningkatan produktifitas melalui peningkatan mutu
benih.
4. Gerakan peningkatan Produksi Pangan Berbasis
Korporasi ( GP3K ).
5. Penelitian dan pelepasan varietas unggul.
6. Introduksi teknologi pupuk berimbang.
7. Perluasan areal tanam.
8. Penyuluhan dan pendampingan.
Dalam rangka menentukan strategi dan kebijakan
pertanian dan pangan pada masa depan kiranya perlu mempertimbangkan beberapa
aspek berikut :
1. Strategi pengembangn pertanian di sektor hulu lebih
di orientasikan pada pengembangan yang berbasis pasar dan agribisnis modern
sehingga terkait dengan bidang lainnya seperti penyediaan bibit unggul yang
memadai, perluasan subsidipupuk, pelaksanaan dan pemantauan kredit pertanian
yang murah, teknik dan manajemen pertanian yang profesional.
2. Mekanisme penunjukkan rekanan impor beras harus
dilakukan secara transparan agar tercapai tingkat harga yang rasional di
tingkat konsumen tanpa merugikan petani.
3. Kebijakan diversifikasi produk pangan melalui
sosialisasi dengan pendekatan ekonomi sehingga dapat mendorong motivasi petani
menanam jenis tanaman alternatif selain beras.
4. Pembangunan sektor pertanian harus dilakukan secara terintegrasi dengan pembangunan
di daerah perdesaan dalam kerangka pembangunan kesejahteraaan masyarakat petani
di desa.
B.
Saran
Dari uraian makalah ini
maka terdapat beberapa saran yaitu pemerintah harus segera menindak lanjuti
masalah pertanian agar lahan pertanian tidak semakin sempit, dengan memberikan
tempat pemukiman tersendiri bagi penduduk baru agar tidak menggunakan lahan
pertanian. Untuk para petani harus mempunyai pengetahuan teknologi pertanian
yang luas agar bisa mengoprasikan mesin, sehingga apabila para pecangkul tidak
digunakan lagi maka bisa menggunakan keahlian barunya dalam mengopersikan
teknologi modern, sehingga tidak kehilangan sumber mata pencaharian.