Minggu, 01 November 2015

sinopsis novel Sang Pencah



Sinopsis Sang Pencerah 
karya Akmal Nasery Basral

Muhammad Darwis adalah keturunan salah seorang penyebar agama Islam terbesar ditanah Jawa, awal ketertarikan Darwis untuk belajar lebih mendalam tentang agama Islam ialah ketika ia sedang mengikuti yasinan dirumah pak Poniman, ia melihat istri pak Poniman sedang kesulitan uang untuk melaksanakan yasinan tersebut. “Apakah dalam agama islam diharuskan seperti yasinan dan nyandran sedangkan hal tersebut membebani seseorang?” Pertanyaan tersebut ditelontarkan Darwis ketika rapat takmir, namun semua mata menatap tajam darwis, sesampai dirumah bapaknya melontarkan kemarahan yang belum tersalurkan, dan terjadilah kala bendu dirumah Darwis (zaman dimana orang sering berbantahan), dan pada akhirnya acara Nyandran tetap dilaksanakan.
Oleh Bapaknya Darwis dikirim ke Mekkah Al-Mukarramah untuk menuntut ilmu selama 5 tahun, disana nama Darwis diganti dengan Ahmad Dahlan, sesampai di rumah Dahlan dinikahkan dengan Walidah, dan tidak lama kemudian Dahlan menjadi yatim piatu. Dahlan berencana mengubah arah kiblat yang melenceng dari arah kiblat Mekkah, salah satunya adalah masjid Gedhe Kauman. Namun, rencana tersebut tidak disetujui oleh para Kiai. Selanjutnya di Masjid Gedhe Kauman geger dengan adanya saf baru yang dibuat dengan kapur. Tuduhan ditujukan kepada Ahmad Dahlan, namun tuduhan tersebut cepat terhenti karena terbukti bahwa yang melakukan adalah keponakan Kiai Penghulu. Dahlan mendapatkan kiriman surat dari Kiai Penghulu untuk menutup Langgar Kidul Kiai Dahlan, karena jamaah yang datang kesana lebih banyak daripada yang datang ke Masjid Gedhe Kauman. Namun Kiai Dahlan tidak akan pernah menutup Langgar Kidul, mendengar berita tersebut Kiai Penghulu mengumpulkan rombongan untuk menghancurkan Langgar Kidul Kiai Dahlan. Setelah penghancurah Langgar Kidul Dahlan kehilangan akal, ia berencana akan meninggalkan Kauman, namun Kiai Saleh berhasil menghadang Dahlan dan Walidah, dan Kiai Saleh akan membantu Dahlan mendirikan Langgar Kidul kembali. Sri Sultan Hamengkubuwono VII menyarankan Kiai Dahlan pergi haji ke dua kalinya dengan biaya keraton agar dapat meredakan konflik di Kauman.
Setelah pulang dari Mekah Dahlan bergabung dengan perkumpulan Budi Utomo (perkumpulan yang mengurusi pendidikan dan kesehatan masyarakat). Dengan bergabungnya dengan Budi Utomo Kiai Dahlan diberikan kesempatan untuk mengajar di Kweekschool (setingkat SD-SMP). Di rumahnya Dahlan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah dan ia menggunakan biola untuk media berdakwahnya, akibat ini tuduhan Kiai Kafir kepada Kiai Dahlan semakin menjadi-jadi. Para Kiai mengintrogasi lanjutan terhadap cara dan sikap Kiai Dahlan dalam berdakwah. Dan pada akhirnya Kiai Dahlan berhasil mendirikan Muhammadiyah yang disetujui oleh seluruh khalayak, dan beliau berdamai dengan Kiai Noor juga Kiai Penghulu. Sri Sultan Hamengkubuwono VII berharap lewat Muhammadiyah kebesaran Kiai Dahlan akan selalu terdengar sampai luar Kauman.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar