Sinopsis
Sang Pencerah
karya Akmal Nasery Basral
Muhammad Darwis adalah keturunan salah seorang
penyebar agama Islam terbesar ditanah Jawa, awal ketertarikan Darwis untuk
belajar lebih mendalam tentang agama Islam ialah ketika ia sedang mengikuti
yasinan dirumah pak Poniman, ia melihat istri pak Poniman sedang kesulitan uang
untuk melaksanakan yasinan tersebut. “Apakah dalam agama islam diharuskan
seperti yasinan dan nyandran sedangkan hal tersebut membebani seseorang?”
Pertanyaan tersebut ditelontarkan Darwis ketika rapat takmir, namun semua mata
menatap tajam darwis, sesampai dirumah bapaknya melontarkan kemarahan yang
belum tersalurkan, dan terjadilah kala bendu dirumah Darwis (zaman dimana orang
sering berbantahan), dan pada akhirnya acara Nyandran tetap dilaksanakan.
Oleh Bapaknya Darwis dikirim ke Mekkah Al-Mukarramah
untuk menuntut ilmu selama 5 tahun, disana nama Darwis diganti dengan Ahmad
Dahlan, sesampai di rumah Dahlan dinikahkan dengan Walidah, dan tidak lama
kemudian Dahlan menjadi yatim piatu. Dahlan berencana mengubah arah kiblat yang
melenceng dari arah kiblat Mekkah, salah satunya adalah masjid Gedhe Kauman.
Namun, rencana tersebut tidak disetujui oleh para Kiai. Selanjutnya di Masjid
Gedhe Kauman geger dengan adanya saf baru yang dibuat dengan kapur. Tuduhan
ditujukan kepada Ahmad Dahlan, namun tuduhan tersebut cepat terhenti karena
terbukti bahwa yang melakukan adalah keponakan Kiai Penghulu. Dahlan
mendapatkan kiriman surat dari Kiai Penghulu untuk menutup Langgar Kidul Kiai
Dahlan, karena jamaah yang datang kesana lebih banyak daripada yang datang ke
Masjid Gedhe Kauman. Namun Kiai Dahlan tidak akan pernah menutup Langgar Kidul,
mendengar berita tersebut Kiai Penghulu mengumpulkan rombongan untuk
menghancurkan Langgar Kidul Kiai Dahlan. Setelah penghancurah Langgar Kidul
Dahlan kehilangan akal, ia berencana akan meninggalkan Kauman, namun Kiai Saleh
berhasil menghadang Dahlan dan Walidah, dan Kiai Saleh akan membantu Dahlan
mendirikan Langgar Kidul kembali. Sri Sultan Hamengkubuwono VII menyarankan
Kiai Dahlan pergi haji ke dua kalinya dengan biaya keraton agar dapat meredakan
konflik di Kauman.
Setelah pulang dari Mekah Dahlan bergabung dengan
perkumpulan Budi Utomo (perkumpulan yang mengurusi pendidikan dan kesehatan
masyarakat). Dengan bergabungnya dengan Budi Utomo Kiai Dahlan diberikan
kesempatan untuk mengajar di Kweekschool (setingkat SD-SMP). Di rumahnya Dahlan
mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah dan ia menggunakan biola untuk media
berdakwahnya, akibat ini tuduhan Kiai Kafir kepada Kiai Dahlan semakin
menjadi-jadi. Para Kiai mengintrogasi lanjutan terhadap cara dan sikap Kiai
Dahlan dalam berdakwah. Dan pada akhirnya Kiai Dahlan berhasil mendirikan
Muhammadiyah yang disetujui oleh seluruh khalayak, dan beliau berdamai dengan
Kiai Noor juga Kiai Penghulu. Sri Sultan Hamengkubuwono VII berharap lewat
Muhammadiyah kebesaran Kiai Dahlan akan selalu terdengar sampai luar Kauman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar